Produksi Pupuk Cair Organik Berbasis Mikroba SMK Yasina Cigombong

Para siswa diajarkan untuk memanfaatkan limbah organik di sekitar lingkungan sekolah untuk diproses menjadi nutrisi tanaman yang kaya akan unsur hara esensial. Langkah ini merupakan bagian dari gerakan menuju sekolah hijau yang berkomitmen penuh terhadap pengelolaan limbah secara mandiri dan ramah lingkungan. Melalui pemanfaatan agen hayati pilihan, proses produksi pupuk alami ini mampu menghasilkan larutan penyubur tanah yang efektif dan ekonomis. Keunggulan dari produk pertanian buatan siswa ini terletak pada pemanfaatan berbasis mikroba aktif yang berfungsi sebagai dekomposer alami guna mempercepat penyerapan nutrisi oleh akar tanaman secara optimal.

Proses pembuatan larutan penyubur tanaman ini diawali dengan pengumpulan bahan baku organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah domestik dari kantin sekolah. Bahan-bahan tersebut kemudian dicacah hingga halus agar memperluas permukaan sentuh komponen saat memasuki tahap fermentasi di dalam wadah khusus yang kedap udara. Para siswa keahlian agribisnis pengolahan hasil pertanian dengan cermat menambahkan kultur bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus dan ragi fungsional untuk memulai proses penguraian senyawa kompleks menjadi bentuk yang siap diserap tanaman.

Selama masa fermentasi yang berlangsung selama beberapa minggu, para siswa secara berkala melakukan pemantauan terhadap parameter kualitas cairan, seperti tingkat keasaman, perubahan suhu, serta aroma yang dihasilkan. Pengawasan yang ketat ini sangat penting untuk memastikan bahwa mikroba pengurai bekerja secara optimal dan tidak terkontaminasi oleh bakteri pembusuk yang merugikan. Pengalaman praktis melakukan monitoring laboratorium sederhana ini melatih ketelitian, kedisiplinan, dan kemampuan analisis ilmiah para siswa secara langsung di lapangan.

Setelah proses pematangan selesai, cairan hasil fermentasi disaring secara bertingkat untuk memisahkan ampas padat dengan larutan inti yang murni dan jernih. Ampas padat hasil penyaringan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi pupuk kompos padat yang bernilai guna tinggi untuk media tanam bibit baru. Larutan inti yang telah bersih kemudian dikemas ke dalam botol-botol ekonomis yang siap digunakan untuk menyuburkan tanaman hias maupun tanaman pangan di kebun percontohan milik sekolah.